Kepemimpinan Perempuan untuk Perubahan Sosial
Ada perempuan yang memilih diam agar tidak dianggap terlalu banyak bicara. Ada yang memilih mundur agar tidak disebut terlalu ambisius. Ada pula yang merasa harus memilih antara menjadi perempuan yang sepenuhnya hadir untuk keluarga atau perempuan yang berkiprah di ruang publik. Padahal, mengapa harus memilih? Bukankah sungai tidak kehilangan airnya ketika mengalir ke banyak tempat? Justru karena mengalir, ia menghidupkan sawah, mengisi sumur, menyuburkan tanah dan memberi manfaat bagi kehidupan.
Begitulah makna dari perempuan. Perempuan tidak harus menjadi kurang sebagai ibu untuk menjadi lebih sebagai pemimpin. Tidak harus meninggalkan kelembutan untuk menjadi tegas. Tidak harus melepaskan keluarga untuk mengabdi di ruang publik. Perempuan dapat membawa seluruh nilai yang tumbuh dalam dirinya, diantaranya kasih sayang, keteguhan, empati, keberanian, ilmu dan tanggung jawab ke mana pun ia melangkah.
Saya seorang dokter, seorang ibu dari tiga anak, seorang istri dan saat ini mendapat amanah sebagai direktur medis. Berada dalam berbagai peran tersebut membuat saya semakin memahami bahwa kepemimpinan perempuan bukan sekadar persoalan siapa yang duduk di kursi pengambil keputusan. Karena sejatinya, kepemimpinan adalah tentang siapa yang bersedia memikul amanah ketika keputusan harus dibuat.
Sebagai dokter, saya belajar bahwa di balik satu angka statistik selalu ada manusia. Di balik satu kebijakan rumah sakit ada pasien yang berharap, keluarga yang menunggu dan tenaga kesehatan yang bekerja dengan segala keterbatasannya.
Sebagai ibu, saya belajar bahwa keputusan yang baik tidak selalu menjadi keputusan yang paling mudah. Kadang seorang ibu harus berkata “tidak” demi kebaikan anaknya. Kadang harus bersabar. Kadang harus berdiri paling depan ketika anaknya membutuhkan perlindungan. Dan sebagai pemimpin, saya belajar bahwa keberanian mengambil keputusan harus berjalan bersama kesediaan untuk bertanggung jawab atas akibatnya.
Di titik itulah saya menemukan relevansi besar perjuangan ‘Aisyiyah. Lebih dari sekadar sebuah organisasi perempuan, ‘Aisyiyah bagi saya adalah perjalanan panjang tentang bagaimana perempuan belajar menjadi subjek perubahan. Pendidikan, kesehatan, dakwah, pemberdayaan masyarakat dan berbagai aktivitas sosial menjadi ruang pengabdian perempuan.
Ada pesan yang sangat kuat dari perjalanan itu, yakni perempuan tidak menunggu dunia berubah untuk kemudian bergerak. Perempuan bergerak, lalu ikut mengubah dunia.
Semangat itu memiliki akar yang kuat dalam ajaran Islam. Al-Qur’an tidak menempatkan perempuan hanya sebagai penerima perubahan, tetapi sebagai bagian dari mereka yang menggerakkan kebaikan. Allah berfirman :
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar…”
(QS. At-Taubah: 71)
Ayat ini seperti mengetuk kesadaran kita bahwa perempuan bukan penonton dalam perjalanan sejarah. Perempuan adalah bagian dari mereka yang terus berkiprah, menuliskan sejarah.
Islam juga memberikan ruang yang luas bagi perempuan untuk berbuat dan memberi manfaat. Allah berfirman:
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik…”
(QS. An-Nahl: 97)
Negara pun telah membuka ruang bagi keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan. Pasal 245, UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, mengatur keterwakilan perempuan paling sedikit 30 persen dalam daftar bakal calon anggota DPR dan DPRD. Ketentuan ini merupakan bentuk affirmative action untuk memperluas ruang perempuan dalam politik. Dalam perkembangan terbaru, Putusan MK Nomor 128/PUU-XXIV/2026 menegaskan konsekuensi hukum apabila ketentuan 30 persen tersebut tidak terpenuhi.
Maka, menjadi perempuan berkemajuan bukan tentang berlomba menjadi lebih tinggi daripada siapa pun. Ini adalah tentang memastikan bahwa keberadaan kita meninggalkan lebih banyak kebaikan daripada ketika tanpa kita.
Bayangkan sebuah lilin. Ia tidak bertanya apakah ruangan akan menjadi gelap setelah dirinya menyala. Ia hanya menjalankan kodratnya yakni memberikan cahaya.
Begitu pula perempuan berkemajuan. Ia tidak harus menunggu semua keadaan ideal untuk mulai berkontribusi. Ia dapat memulai dari ruang yang dimilikinya.
Seorang ibu dapat menyalakan literasi dari meja makan. Seorang guru dapat menyalakan keberanian di ruang kelas. Seorang dokter dapat menyalakan harapan di ruang pelayanan. Seorang pemimpin dapat menyalakan perubahan melalui keputusan yang adil. Dan seorang kader ‘Aisyiyah dapat menyalakan nilai-nilai dakwah melalui kerja nyata di tengah masyarakat.
Kepemimpinan perempuan menjadi penting. Perempuan perlu hadir bukan hanya sebagai pelaksana, tetapi juga sebagai pengambil keputusan strategis. Perempuan perlu berada di ruang-ruang tempat arah organisasi ditentukan, kebijakan dirumuskan dan masa depan direncanakan.
Bukan karena perempuan harus mengambil alih ruang laki-laki. Tetapi karena perubahan membutuhkan perspektif yang lengkap. Seperti sebuah rumah yang membutuhkan banyak jendela untuk mendapatkan cahaya dari berbagai arah, masyarakat membutuhkan perspektif perempuan agar keputusan tidak hanya melihat persoalan dari satu sisi.
Kepemimpinan perempuan juga tidak boleh berhenti pada pencapaian pribadi. Jika seorang perempuan telah berhasil menaiki tangga, jangan ia segera menarik tangga itu ke atas. Ulurkan tangan, bantu perempuan lain naik, berbagi ilmu, membuka kesempatan, membesarkan keberanian, membangun jejaring, menciptakan ruang aman bagi perempuan muda untuk mencoba, gagal, belajar, lalu bangkit kembali. Sebab keberhasilan seorang perempuan menjadi jauh lebih bermakna ketika keberhasilan itu melahirkan perempuan-perempuan lain yang berani.
Kita juga hidup dalam masyarakat yang menghadapi persoalan kompleks, diantaranya kesehatan, pendidikan, ketimpangan, perlindungan perempuan dan anak, hingga tantangan keluarga. Tidak mungkin semua persoalan itu diselesaikan oleh satu kelompok saja. Maka perempuan harus hadir sebagai jembatan. Menghubungkan keluarga dengan masyarakat. Menghubungkan ilmu dengan amal. Menghubungkan kepemimpinan dengan kemanusiaan. Menghubungkan generasi hari ini dengan generasi yang akan datang.
Jangan takut menjadi perempuan yang memilih hadir. Hadir bukan untuk mencari pengakuan. Hadir bukan untuk menunjukkan bahwa kita lebih hebat. Hadir karena ada amanah yang harus ditunaikan.
Saya ingin suatu hari nanti anak-anak perempuan kita tidak bingung lagi, “Apakah perempuan boleh menjadi pemimpin?.”
‘Aisyiyah telah menanam benih perjuangan itu dalam perjalanan panjangnya. Kini, tugas kita bukan sekadar menjaga agar benih itu tetap hidup. Kita harus membuatnya tumbuh menjadi pohon yang rindang, tempat generasi perempuan berikutnya berteduh, belajar dan menemukan keberanian untuk melanjutkan perjuangan.
Sebab perempuan yang berkemajuan tidak hanya berjalan menuju masa depan. Ia menyiapkan jalan agar perempuan lain dapat berjalan lebih jauh. Dan perubahan sosial, sering kali, memang bermula dari satu perempuan yang memilih untuk tidak hanya melihat keadaan, tetapi memilih untuk mengubahnya. Bangkitlah para perempuan islam berkemajuan.
Biodata Singkat Penulis :
- Eirna Syam Fitri, MMR., FISQua, dokter dan direktur medis RSU Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah, anggota majelis kesehatan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah. Perempuan yang di tengah amanah kepemimpinannya, juga menjalankan peran sebagai istri dan ibu dari tiga anak. Perempuan yang memandang kepemimpinan perempuan sebagai amanah untuk menghadirkan kebermanfaatan, memperkuat kolaborasi dan membuka jalan bagi tumbuhnya generasi perempuan yang berani, berilmu dan berkemajuan.




